Beberapa kelebihan dan kelemahan/kekurangan Reksadana

Setelah mengetahui apa itu reksadana dari post sebelumnya, sepertinya cukup menarik berinvestasi di reksadana. Tapi ada ga kelebihan dan kelemahan dari reksadana itu sendiri, dibandingkan dengan tipe investasi lain seperti deposito, saham, tanah, atau yang lainnya…?

Tidak akan pernah ada investasi yang tidak rugi atau untung terus. Contohnya? deposito? Bunga deposito besarnya (per 1 Feb. 2014 dari pusat data kontan) rata-rata 6,73% per tahun, sedangkan inflasi tahunan (per Des. 2013, data BI) sebesar 8,38% yang berarti kita sebagai nasabah/investor nombok 1.65% per tahun.

Untuk bisa mempertahankan nilai uang kita, berarti kita harus mencari investasi yang bisa menghasilkan diatas inflasi. Salah satunya reksadana. Tapi reksadana sendiri juga punya kelemahan, selain kelebihan.

Beberapa kelebihan Reksadana :

  1. Modal kecil/rendah. Ga perlu duit jutaan untuk bisa investasi di reksadana. Ada MI (Manajer Investasi) yang mengizinkan kita untuk mulai berinvestasi dari 250 ribu rupiah, malah ada yang bisa pembelian minimal dengan hanya 50-100 ribu rupiah (SERIUS, beneran loh!). Walaupun ada juga yang mengharuskan pembelian minimal puluhan juta sih, tapi secara umum, minimal setoran/pembelian kurang dari 500 ribu rupiah. Contohnya reksadana Manulife Syariah Sektoral Amanah, reksadana Panin Dana Maksima yang legendaris itu atau reksadana Mandiri Investa Atraktif (warning, ketiga link tsb adalah prospektus berupa file pdf). Jadi kata siapa anak sekolahan, mahasiswa atau buruh ga bisa jadi investor hehehe…
  2. Diatur dan diawasi oleh pemerintah. Semua hal tentang reksadana ada dalam aturan perundang-undangan yang bisa dilihat di situs bapepam khusus untuk reksadana (http://aria.bapepam.go.id/reksadana/) bagian regulasi. Mulai dari apa-apa saja kewajiban MI ke calon nasabah/investor, sampai maksimal besaran porsi instrumen yang dapat dibeli oleh MI. La terus koq bisa sampe ada yang kena kasus kaya century atau reksadana bodong? Ya itu nasabah/investor bisa jadi kurang mencari/menggali informasi, dan pemerintah juga kurang pengawasan.
  3. Likuid/mudah dicairkan. Kalau untuk emas, rumah, tanah kita harus cari pembeli, sedangkan deposito harus menunggu waktu jatuh tempo (jika tidak pada waktu jatuh tempo kan kena pinalti). Maka pada reksadana, kita cukup mendatangi MI untuk mengisi form penjualan kembali unit yang kita miliki, dan tunggu antara 1-5 hari (berbeda-beda tergantung reksadananya, biasanya TERTULIS JELAS di prospektus) maka dananya akan masuk ke rekening kita di bank. Pembelian kembali oleh MI ini tertulis kewajiban dan aturannya dalam peraturan BAPEPAM, biasanya juga tertulis di dalam prospektus.
  4. Mudah proses pembelian dan penjualannya. Untuk beli reksadana, sederhananya cukup datang ke MI atau agen penjual, isi beberapa (sekitar 2-4 jenis) form, begitu dikonfirmasi oleh MI sudah OK transfer dana ke rekening reksadana yang dituju, berikan kopi transfer, selesai 😀
    Untuk Jualnya juga kurang lebih sama, dateng, isi 1 form, tunggu dana cair/langsung masuk rekening antara 1-5 hari, selesai 😀 Ga ada ceritanya iklanin dijual/dibeli dulu di koran 😀
    Total waktu yang dibutuhkan sekitar 5-30 menit (di commbank pernah cuma 5 menit, di Bank Mandiri pernah 30 menit, di Trimegah dulu kayanya sekitaran 5-10 menit juga. Emang rekor deh lamanya di Bank Mandiri…). Bisa juga dibaca disini.
  5. Pilihan yang beragam/macam-macam. Mau yang cuma untuk jangka pendek, bisa pilih reksadana pasar uang, mau yang return tinggi untuk jangka panjang bisa pilih reksadana saham, mau yang dijamin modal/dana awalnya bisa pilih reksadana terproteksi, dan banyak lagi hehehe…
  6. Potensi hasil investasi yang cukup tinggi dalam jangka panjang (diatas 5 tahun). Untuk poin ini, kita bicara data aja, semua reksadana pada saat penjualan awal bernilai 1000 rupiah per unit. Per hari ini, NAB reksadana Panin Dana Maksima yang awal dijual tahun 1997 bernilai 61 ribu-an per unit yang berarti sudah naik 61x lipat selama 16+ tahun. Atau kita lihat Batavia Dana Saham yang ditelurkan pada tahun 1996, saat ini NABnya berada di 44 ribu-an per unit, 44x lipat selama 17+ tahun. Atau mungkin NAB Schroder Dana Prestasi Plus dari tahun 2000 sekarang 22rb, 22x lipat dalam waktu 13+ tahun.
    Wah besar ya… Tapi itu kan diatas 10 tahun… Yang belum sampai 10 tahun ada ga? Ada juga, tapi ga sebesar itu lah… Mungkin seperti reksadana Mandiri Investa Atraktif yang ditelurkan tahun 2005, saat ini NAB nya 3.500an per unit, hanya 350% selama 8+ tahun. Lumayan kan untuk investasi pasif yang kita ga ngapa2in kecuali beli unit doang… 😀
  7. Dana kita dikelola secara profesional. Pengelola dana kita terdiri dari orang-orang yang memiliki pendidikan pasar modal yang mumpuni, jam terbang tinggi, berpengalaman, umumnya tersertifikasi lokal maupun internasional di bidang pasar modal, serta memiliki izin resmi dari BAPEPAM-LK. Karena dalam menjadi pengelola harus memiliki izin resmi Wakil Manajer Investasi yang dikeluarkan oleh BAPEPAM-LK.
  8. Resiko yang lebih rendah. Hal ini didasarkan karena dana yang dikelola oleh MI menggunakan prinsip diversifikasi (jangan taruh semua telur dalam satu wadah). Baik secara aturan, maupun secara pengelolaan teknis, tidak 100% dana dibelikan dalam satu instrumen yang spesifik, misal 100% saham astra internasional saja, atau 100% sukuk ritel saja. Ada aturan yang melarang sebuah MI untuk memiliki/membeli sebuah saham lebih dari 10% dari total portofolio/dana. Selain itu, maksimal dana yang diletakkan untuk instrumen dasar hanya 80%, misal reksadana saham, maka maksimal 80% di saham, 20% sisanya haruslah cash atau ada bagian pasar uang/deposito.

Sedangkan untuk kekurangannya sendiri :

  1. Return/hasil keuntungan yang fluktuatif, terutama pada reksadana saham, karena mengikuti harga saham-saham yang dibeli/menjadi dasar perhitungan NABnya. Misalkan pada contoh Batavia Dana Saham, 4400% dalam 17 tahun lebih itu bukan berarti 258% per tahun. Tapi ada tahun dimana return nya mencapai diatas 100%, ada juga tahun dimana return nya minus 50% lebih (contohnya tahun 2008, dimana secara umum return reksadana minus, IHSG nya sendiri pun minus). Dan untuk menghitung rerata per tahun bukan sekedar 4400% dibagi 17 tahun, melainkan menggunakan rumus CAGR (Compound Annual Growth Rate), didapatkan hasil sekitar 24.93 % per tahun. Untuk yang ga tahan/jantungan ngeliat uangnya tiba-tiba berkurang separuhnya (walaupun 1-2 tahun kemudian justru meroket), mending ga usah investasi ke reksadana saham 😀
  2. Biaya-biaya yang relatif agak tinggi. Dalam reksadana ada beberapa komponen biaya, biasanya disebutkan dalam prospektus. Biaya manajemen, biaya bank kustodian, biaya pembelian, biaya penjualan, dll… Nilainya sih macem-macem, ada yang 1%, 2%, dan lain-lain. Untuk biaya jual atau beli itu sendiri, contoh misalnya reksadana Panin Dana Maksima, biaya pembelian s/d 4% dan penjualan 1% (untuk kurang dari 1 tahun). Jika kita terjun langsung menjadi investor saham, biaya pembelian saham hanya sekitar 0,15-0,2% dan biaya penjualan saham hanya sekitar 0,25-0,35%. Berarti jika kita membeli Panin Dana Maksima sejumlah 100 ribu, maka biaya belinya maksimal 4 ribu rupiah. Sedangkan bila kita beli saham PT. Kalbe Farma Tbk (KLBF) sejumlah 1 lot (per 4 Feb. 2014 Rp. 1.385/lembar) sebesar Rp. 138.500, maka biaya beli nya maksimal sekitar 277 rupiah hehehe…
  3. Tidak ada jaminan keuntungan. Tidak seperti deposito yang menjanjikan nilai keuntungan sekian persen, keuntungan di reksadana bersifat fluktuatif yang berarti tidak selalu ada keuntungan besar, kadang hanya keuntungan kecil yang lebih kecil dari deposito, atau malah minus/berkurang. Dan tidak seperti deposito yang dijamin pemerintah (s/d 2 milyar kalo ga salah), di reksadana, dana kita tidak dijamin oleh pemerintah, apalagi oleh MI nya sendiri. Kalaupun ada yang dijamin, biasanya merupakan dana awal dan dalam reksadana terproteksi.
  4. Resiko yang mengikuti resiko pasar modal, contohnya misalkan di saham jika perusahaan bangkrut maka pemegang saham tidak mendapatkan apa-apa (alias hangus). Tapi resiko ini biasanya kecil jika manajer investasinya benar-benar berinvestasi secara cermat dan cerdas. Ini bisa diliat dari portofolio yang dipegang, serta tujuan produk reksadananya sendiri (tertulis di prospektus apakah mengedepankan stabilitas atau return, saham bluechip atau lapis 2-3, dst…)
Baca juga :   Reksadana PNM Amanah Syariah

Demikianlah beberapa kelebihan dan kekurangan reksadana (dari sudut pandang seorang investor pemula) sebagai sebuah alternatif investasi. Semoga bisa menjadi masukan dan pertimbangan dalam berinvestasi.

Untuk mencari reksadana produk terbaik yang sesuai dengan cara yang sederhana, bisa dibaca di artikel ini.

DISCLAIMER : Penyebutan merk/nama produk bukan sebagai rekomendasi atau sinyal beli atau jual, melainkan hanya sebagai kepentingan informasi dan data saja. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Author: Febriadi

Male, over quarter century old...

19 thoughts on “Beberapa kelebihan dan kelemahan/kekurangan Reksadana”

  1. gan, boleh dong belajar soal Reksadana. ane pengen invest tapi bingung gmna caranya… bales ya gan.

    Boleh banget. cara sederhananya ya pilih dulu reksadana apa yang mau dibeli untuk investasi, trus dateng ke agen penjual nya untuk beli. Detil caranya, ditunggu ya, dalam proses penulisan koq.

  2. Jadi gini pak, saya ada dana 10jt yg mau saya invest kan ke Reksadana (RD) berbasis Syariah. Saya ada niat mau menginvest kannye ke RDC 50% ke RDS 50% dari dana 10 jt itu ke MI yg masih 1 manajemen hanya beda di produknye aje. Krn saya melihat ke 2 produk dari MI yg masih 1 manajemen tsb dari infovesta.com dari kinerja 3-5 thn memberikan returnnya hanya berselisih -+5%, cuman dari hrg NAB ke-2 nya, RDC nya lebih mahal -+500/UP nye di banding RDS nya.

    Menurut anda gimana pak klo saya mrnginvest nye dgn cara tsb fifty:fifty,?

    Mohon penjelasannya, terima kasih

    Pertama, apakah pak Nur siap “kehilangan (diatas kertas)” sekitar 4-5jt uangnya dalam rentang waktu sekitar 2-3 tahun kedepan? Jika siap, silakan dilanjutkan investnya. Saya bilang seperti ini, karena saya pernah mengalami investasi saya “hilang” 50% karena kejatuhan bursa di tahun 2008 (walaupun setelahnya kembali lagi +15%).

    Saya katakan “hilang” dalam tanda kutip diatas kertas itu maksudnya tidak terealisasi. Hanya laporan saja, kecuali kalau terus diuangkan, jadilah rugi/hilang betulan 😀

    Untuk ketenangan pak Nur, saya sarankan dana 10jt itu memang tidak akan digunakan dalam kurun waktu 5-6 tahun kedepan. Sedangkan untuk pemilihan RDC dan RDSnya, tergantung dari tujuan investasi pak Nur sendiri. RDC akan terlihat lebih baik saat bursa turun karena biasanya portofolionya akan diubah kearah obligasi untuk mengurangi “impact” penurunan saham. Kinerja RDC tidak akan lebih buruk dari RD saham saat bursa jatuh, namun agak sulit untuk lebih baik dari RD saham saat bursa “terbang”.

    Jika pak Nur berorientasi pada tujuan/jangka waktu, dan ada target/tujuan dalam kurun waktu 4 tahun, maka cukup sesuai pak Nur memilih RDC selain RD saham.
    Namun jika pak Nur berorientasi pada return, dan profil resiko anda adalah aggresif, kenapa tidak 100% saja di RD saham?

    Untuk NAV yang lebih mahal, tidak berpengaruh pak apakah lebih tinggi/mahal atau rendah/murah, toh walaupun NAVnya 10rb kalau naiknya 10% ya sama saja dengan NAV 2rb yang naik 10% juga. Disinilah bedanya RD dengan saham. 🙂

    Demikian penjelasan dari saya, mudah-mudahan bisa cukup mencerahkan. Mohon koreksi atau masukannya jika ada kekurangan.
    Terima kasih.

  3. dear mas adi,,
    sy butuh saran,, sy rencana mau beli RD untk 5 atw 6 taun tujuannya untuk renov rumah dan mengharapkan nilainya nnti +/- 600jt sekian.. saya berencana mau ambil RDS, pertanyaannya:

    1. msh bingung mau ambil RDS yg mana yg bs menghasilkan return untk mencapai nilai 600jt sekian????
    2. berapa sebaiknya besaran topup tiap bulan untuk mencapai jumlah goal saya???

    Terima kasih telah mengunjungi blog saya bu/mbak Novia.
    Untuk detil target dan sebagainya, saya sangat menyarankan bu/mbak Novia untuk berkonsultasi langsung ke Perencana Keuangan Independen (bukan agen asuransi yang memplokamirkan diri jadi perencana keuangan loh ya). Karena sebelum berinvestasi, segala macam asuransi, hutang dan sebagainya harus diperiksa agar memastikan kesehatan keuangan baik/bagus, dan akan di berikan saran kemana sebaiknya berinvestasi sesuai dengan profil diri secara private.

    Untuk gambaran kasar/besarnya, saya usahakan untuk menjawab sejauh pengetahuan saya.
    1. bu/mbak Novia bisa melihat dari Fund Screener bloomberg atau screening dari infovesta atau ipotfund, 5-10 besar RDS terbaik dari sisi historis return, umur, dan dana kelolaan. Memang kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan, tapi paling tidak MI tersebut cukup berpengalaman.

    2. bu/mbak Novia bisa mencoba kalkulator investasi yang beredar di internet. Salah satu yang saya coba adalah kalkulator ini. Dari kalkulator ini, dengan target dana 600jt dalam waktu 6 tahun ke depan, dibutuhkan paling tidak dana sekitar 5jt per bulan.

    Harap diingat bahwa return reksadana (terutama reksadana saham) bukanlah return fixed seperti deposito. Misalkan diasumsikan 15% per tahun, bukan berarti setiap tahun fixed mendapatkan 15%, tapi bisa 15%, lebih dari 15% ataupun malah kurang dari 15% atau MINUS 15% hehehe… Karena itulah dibutuhkan jangka waktu investasi yang cukup panjang.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  4. Mas
    Saya seorang mahasiswa dengan uang bulanan 1,5 juta.
    Saya ingin invest reksadana dengan modal 100rbu-350rbu.
    Tapi saya masih bingung mau milih jenis reksadana seperti apa dan dengan securitas yang terbaik.
    Mohon bimbingannya mas.

    Terima kasih mas Rado atas kunjungannya ke blog saya.
    Saya salut dengan niat anda untuk berinvestasi di usia muda.

    mas Rado bisa coba membaca artikel saya disini dan disini untuk panduannya. Mungkin mas Rado bingung karena tidak ada tujuan investasi? silakan coba dulu 1-2 kali ke semua jenis reksadana agar lebih “dapat feelnya”.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  5. Mas rado sama seperti saya bingung mau menempuh jalan yang mana . haha

    @mas adi itu dalam balasan koment mas rado. (Mungkin mas Rado bingung karena tidak ada tujuan investasi? silakan coba dulu 1-2 kali ke semua jenis reksadana agar lebih “dapat feelnya”.) maksudnya 1-2 kali itu apa ya mas adi. Terimakasih 🙂

    terima kasih atas kunjungannya ke blog saya mas Zulkifli 🙂
    maksudnya itu coba aja invest dalam nominal kecil/minimum ke semua jenis reksadana, biar bisa “merasakan” seperti apa invest di reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham.
    Tau rasanya dapat return di pasar uang dan pendapatan tetap, tau rasanya hari ini dapat return dan besoknya turun di reksa dana campuran dan reksa dana saham.

    Walaupun kalau saran saya berinvestasilah sesuai dengan tujuan/target jangka waktunya. 🙂
    Demikian dari saya, semoga berkenan.

  6. pagi mas adi….jadi menarik nich ulasan dari mas adi. saya di tawari teman untuk inves sekaligus asuransi/proteksi dari generali yg katanya ada system ARMSnya (Automatik Risks Management System) untuk jaminan system investasi kita. menekan resiko kerugian dan memaximalkan keuntungnan. bagaimana pendapat dari mas adi? sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.


    Selamat pagi mas Wiyanto, terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.

    Mengenai Investasi SEKALIGUS asuransi, yang secara umum disebut UNITLINK, sebetulnya harus dilihat dahulu tujuan mas Wiyanto, apakah hendak berinvestasi atau berasuransi?
    Karena produk unitlink umumnya memberikan manfaat yang tanggung. Premi tinggi, proteksi rendah (dibandingkan konvensional) dan nilai investasinya pun tidak terlalu banyak.
    Untuk prosentase return dapat dibandingkan secara historis minimal 5 tahun ke belakang dengan reksadana biasa, sehingga dapat dilihat bagaimana performa produknya. Jika memang lebih baik, maka fitur tersebut mungkin memang bagus. Lebih bagus lagi jika dapat dilihat bagaimana performanya dibandingkan reksadana lainnya pada 2007 – 2009. Menilai performa terbaik dapat dilihat seberapa rendah kerugiannya pada saat kejatuhan bursa.

    Jika mas Wiyanto memang berniat untuk melakukan proteksi keuangan, maka silakan pelajari asuransi konvensional baik itu asuransi jiwa, kesehatan maupun asuransi lainnya untuk manfaat/proteksi maksimal dengan premi minimal.
    Namun jika mas Wiyanto berniat investasi untuk masa depan, akan lebih optimal hasilnya jika berinvestasi di reksadana (dibandingkan dengan unitlink).

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  7. Saya tertarik investasi di reksadana tapi terus terang bingung mulainya dari mana..mau datang ke manajer invenstasi, bingung datangin ke mana. Tolong dong Pak.. ulas langkah awal bagi pemula untuk investasi ke reksadana

    terima kasih atas kunjungan pak Aris ke blog saya,
    Untuk pemula, silakan coba dibaca artikel saya yang ini.

    Terima kasih. semoga berkenan.

  8. Malam mas adi… Saya juga penasaran dengan reksadana, minimal berapa ya bisa inves di reksadana, mohon infonya ya

    Hai mbak Fitriah, terima kasih atas kunjungannya di blog saya.

    Untuk minimal investasi di reksadana, seperti yang saya tulis di artikel mengenai apa itu reksadana, minimal investasi mulai dari Rp. 50.000,-, 100.000, 250.000 atau ada juga yang 500.000. Tergantung jenis dan merk reksadananya.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  9. Salam Kenal Mas Adi,
    saya pemula yang ingin investasi di reksadana. Sebaiknya jenis reksadana apa yang di beli. Terus jenis reksadana apa yang paling mudah dimengerti bagi pemula (maksudnya gampang hitung-hitungannya) ?
    Pertanyaan berikutnya, diantara jenis-jenis yang ada, mana reksadana yang paling optimal menghasilkan pengembalian modal (keuntungan), berdasarkan kenyataan di lapangan ?
    Pernahkah seorang investor reksadana mengalami kejadian merugi dan tidak kembali lagi, padahal dia tidak menjual unitnya (rugi terus sampai habis modal) ?
    Mohon maaf kalau pertanyaannya banyak.

    Terima kasih atas perhatiannya

    Salam,

    Suryo

    Salam kenal mas Suryo, terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.

    Jenis reksadana yang sebaiknya dibeli adalah yang sesuai dengan profil resiko anda. Satu jenis reksadana mungkin cocok untuk seseorang, namun belum tentu cocok untuk orang lain karena berbeda profil resikonya (profil resiko = kesanggupan menerima resiko finansial atas investasi). Anda coba kenali dulu profil resiko anda apakah anda investor konservatif, moderat, atau agresif.

    Semua jenis reksadana terbuka (yang umum) sama hitung-hitungannya. Dulu memang ada perbedaan perhitungan antara reksadana pasar uang dengan reksadana lainnya. Namun saat ini, semua jenis reksadana memiliki perhitungan yang sama.

    Hitung-hitungannya pun tidak berbelit, hanya berapa harga per unit saat ini dan berapa rupiah anda membeli, nanti akan menjadi berapa unit yang anda miliki. Sedangkan untuk menjual, ya tinggal dikalikan saja unit yang anda miliki berapa dengan harga saat ini, jadilah berapa rupiah dana investasi anda saat ini.

    Secara teori maupun PRAKTEK, semua jenis reksadana sama-sama optimal menghasilkan pengembalian/keuntungan, selama sesuai antara jenis dengan jangka waktunya. Coba saja anda hitung mana yang lebih optimal 35% selama 5 tahun (RDPU) dengan 200% selama 5 tahun (RDS). Atau anda hitung -5% dalam 1 tahun (RDS) dengan 7% (RDPU) selama 1 tahun juga.

    Secara teori mungkin, namun saya sendiri belum pernah mengalami, karena saya selalu screening terlebih dahulu mencari reksadana terbaik untuk saya investasi di dalamnya. Jika anda ingin tahu, mungkin bisa anda cari investor yang pernah berinvestasi di reksadana yang tidak memenuhi kuota BAPEPAM (NAV >= 25 milyar) yang kemudian dibubarkan. Namun dari peraturan BAPEPAM bahwa jika < 25 milyar akan di likuidasi, kemungkinan tidak akan sampai 0, aktiva tersebut akan dibagikan kembali ke investor dalam bentuk rupiah yang berkurang (jadi tidak 0). Namun mohon maaf, saya belum pernah mendengar/mengalaminya. Demikian dari saya, semoga berkenan.

  10. assalamu’alaikum wr wb

    Tulisan bapak soal reksa dana sangat informatif sekali, terima kasih atas pengetahuan yg di bagi.

    saya ingin bertanya,
    jika di bandingkan investasi emas dengan reksa dana dengan waktu investasi yg sama lebih mengintungkan yg mana pak???
    termasuk memperhitungan resiko, fluktuasi harga dll.

    terima kasih

    Wa’alaikumsalam pak Haris. Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.

    Reksadana tidak bisa langsung dibandingkan dengan emas, karena keduanya merupakan instrumen investasi yang memiliki perbedaan jangka waktu, juga secara tujuan.

    Emas adalah instrumen yang baik sebagai hedging/penahan. Maksudnya hedging adalah, nilai yang anda dapatkan akan selalu tetap, tidak bertambah maupun berkurang. Umpama beberapa tahun lalu 2 gram emas bisa membeli 1 ekor kambing, saat ini pun akan tetap 1 ekor kambing. Pepatah mengatakan “emas membuat anda TETAP kaya”. Tetap, bukan lebih, karena dia tidak berkembang.

    Sedangkan reksadana, memiliki banyak jenis untuk banyak tujuan dan waktu, seperti RDPU, RDPT, RDC dan RDS, anda ingin membandingkan dengan yang mana?
    Pun dengan data saat ini, kebetulan harga emas stagnan dari beberapa tahun yang lalu, masih lebih baik SEDIKIT RDC/RDPT. Namun ada saat dimana kebalikannya yang terjadi.

    Semua instrumen memiliki resiko, sesuaikan saja dengan profil anda. Saya pribadi, hanya menggunakan emas untuk hedging.

    Mohon maaf bila kurang berkenan, sebab saya tidak mendalami investasi dan ilmu mengenai emas.
    Terima kasih.
    Wassalam.

  11. saya mau invest ke reksadana schroder dana prestasi… Mnurut bpk gmn? Apakah lbh baik saya invest k produk lain yg nab ny lbh rendah? Tp sama MI. Terimakasih sebelum nya…

    terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.
    NAB besar/tinggi ataupun rendah/kecil tidak ada bedanya, yang penting return konsisten yang diperoleh. Bisa dibaca artikel dari pak Rudiyanto disini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/10/22/pilih-mana-reksa-dana-yang-harganya-tinggi-atau-rendah/ . Reksadana bukanlah saham yang mahal/murahnya tergantung dari harganya.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.

  12. selamat siang pak adi.

    saya ingin memulai investasi RD . saya kebingungan apakah lebih baik membeli di agen penjual atau ke perwakilan bank yg menjual RD tsb. dan apa kelemahan dan kelebihan dr membeli langsug lewat bank atau ke agen penjual sekuritas
    kemudian dalam inves RD ini. keputusan untuk mengelola dana kita berada di tangan kita atau pihak Mi nya.
    monon sarannya pak

    terimakasih ..

  13. asslamualaikum pak, bagaimana, pak reksadana memproleh modal awal nya.?
    dan apa perbedaan reksadana berbentuk perseorangan dan kontrak kolektif,? dan masing-masing bentuk reksada tersebut dapat menghasilkan produk apa saja pak,?
    dan apa perbedaan reksadana saham, pendapatan tetap,campuran,dan pasar uang.?

  14. Selamat pagi mas adi, saya tertarik dengan artikel ini. Sehubungan dengan RDS dan profil resiko agresif serta jangka waktu di atas 10 thn, apakah investor diwajibkan untuk membeli secara rutin perbulanya selama jangka waktu yg sudah ditentukan.

    Selamat sore mas Yonatan,
    Tidak ada satupun pihak yang mewajibkan (kecuali tertulis rule nya, biasanya agen penjual) untuk melakukan pembelian rutin setiap bulannya. Membeli unit reksadana sama seperti membeli emas, kapan kita mau, dan berapa rupiah, semuanya terserah kita. 🙂

    Terima kasih.

  15. Selamat siang mas adi, bermanfaat sekali infonya mas..
    Yang mau saya tanyakan adalah jika kita sudah membeli/memiliki RDS untuk jangka waktu 5-6 tahun dengan tujuan membeli rumah (harga rumah 600jt misalkan) dan kita top up katakanlah 5jt/bln nya, apa nominal top up tsb diwajibkan? Maksud saya bagaimana jika kita top up melebihi/kurang dari nominal 5jt tsb? Dan apa yang akan terjadi jika selama 2 atau 3 bulan kita tidak top up, apa RDS kita hangus?

    Mohon pencerahanya mas, terimakasih..

    Selamat pagi mas Diaz,

    Mohon maaf atas keterlambatan balasannya. Terkait kewajiban nominal top-up, tidak ada kewajiban mengikat kepada investor untuk melakukan top-up dengan nilai tepat sekian. Anda bisa saja top-up melebihi nominalnya, ataupun kurang dari nominalnya, atau malah tidak top-up sama sekali. RDS tidak akan hangus, jumlah unitnya akan tetap sama, tetap bisa diambil ataupun ditambahkan kapan saja, HANYA SAJA, tujuan finansial anda akan lebih lama tercapai hehehe…

    Demikian, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  16. pak saya mau tanya ,
    apa resiko terbesar dari reksadana ? apakah resiko nya itu uang yang kita investasikan itu bisa saja hilang semua ?


    Resiko terbesar dari reksadana, short story : ya bisa hilang semua (walaupun tidak akan semudah itu).
    Long story, detil resiko dari reksadana bisa dilihat dan dibaca pada prospektusnya. Setiap jenis reksadana memiliki resiko yang berbeda-beda. Resiko paling umum yang dihadapi adalah berkurangnya harga/rupiah akibat penurunan nilai unit (walaupun ini biasanya temporer/sementara), dan resiko paling parah adalah likuidasi, namun ini hanya terjadi pada reksadana yang biasanya tidak mengikuti aturan dari OJK (contoh : Century).

  17. Selamat malam, terimakasih atas sajian artikel dan bahasan dalam forum tanya jawabnya yg hangat dan bersahabat. Sy ingin masuk dlm invest RD, masih memilih RD mana yg akan d pilih, pertanyaannya sekarang banyak platform OL yg menyediakan fasilitas RD seperti b*k*l*p*k atau t*kp*d. Apakah ada perbedaan dgn MI atau Bank penyedia jasa RD?, Amankah menggunakan Platform tersebut krn semua pendaftaran dilakukan secara Online? Bagaimana dgn dana yg kita invest kan? Mhn masukannya, terimakasih. Salam hangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *