Bagaimana menghitung keuntungan reksadana?

Suatu hari, saat sedang diskusi tentang reksadana dengan seorang rekan kerja, doi tanya “reksadana itu kita dapat incomenya bagaimana?

Setelah membaca kembali beberapa artikel yang pernah diketik, baru deh sadar kalau ternyata ga pernah menulis tentang bagaimana perhitungan dasar/sederhana hasil keuntungan investasi reksadana… Karena udah sadar, marilah kita coba lihat, seperti apa sih mekanisme keuntungan yang didapatkan jika kita berinvestasi di reksadana?

Dimulai dari instrumen investasi yang sederhana dulu, DEPOSITO.

Deposito adalah salah satu instrumen investasi paling sederhana, paling mudah dimengerti, dan paling umum di masyarakat luas. Walaupun sayangnya juga, return/imbal hasilnya paling rendah diantara instrumen investasi lain… 😀
Imbal hasil deposito biasa disebut bunga (walaupun pada Bank Syariah, disebut sebagai bagi hasil).
Bunga dihitung berdasarkan prosentase tetap per tahunnya dari nilai setoran/investasi. Misalkan kita mendepositokan uang kita sebesar Rp. 10.000.000,- dengan bunga 7%, maka per tahun dana kita akan bertambah Rp. 700.000,- (atau Rp. 58.333,- per bulan, belum pajak 20% 😀 ). Nilai ini sifatnya tetap dalam periode tertentu (selama tidak diubah oleh pihak Bank, dan biasanya berdasarkan perhitungan tertentu dari Suku Bunga Bank Indonesia), dan jelas dihitung prosentasenya dari dana kita.

Instrumen investasi berikutnya adalah Obligasi atau sukuk.

Mulai dari sini, sudah mulai jarang yang mengenalnya. Obligasi/sukuk adalah surat hutang. Sistem/model imbal hasil yang digunakan sama seperti deposito, berupa bunga (obligasi)/bagi hasil (sukuk). Biasanya, bunganya lebih besar daripada deposito, namun minimal dana/modalnya juga lebih besar dari deposito 😀

Berikutnya adalah saham. Banyak diketahui masyarakat, tapi juga (sayangnya) banyak ditakuti.

Imbal hasil yang didapatkan dari saham berasal dari 2 hal, dividen dan capital gain.
Dividen adalah bagi hasil laba yang didapatkan perusahaan untuk pemegang saham. Sifatnya tidak wajib dan biasanya dibagikan tahunan. Besarannya pun tidak tetap setiap tahunnya, baik berdasarkan laba bersih, maupun berdasarkan prosentase saham.
Capital gain merupakan selisih harga jual dengan harga beli saham. Kalau dijual lebih rendah dari harga beli, ya jadinya capital loss :D. Capital gain ini yang menarik minat banyak orang karena nilainya bisa cukup besar.

Baca juga :   Mengenal Investasi Reksadana

Instrumen-instrumen investasi diatas itulah yang menjadi dasar instrumen bagi reksadana. Berikutnya, kita bahas reksadana.

Bagaimana menghitung keuntungan reksadana

Reksadana dijual dalam bentuk unit, seperti halnya saham dalam lembar/lot, dan emas per gram. Namun tidak seperti saham yang harus membeli minimal 100 lembar dan emas minimal 1 gram (bisa sih 0,5 gram, tapi megangnya susah kayae), di reksadana kita bisa membeli 10 unit, maupun dalam rupiah, yang nantinya dihitung jumlah unitnya. Misalkan reksadana XYZ NABnya (Nilai Aktiva Bersih, mudahnya, harga per unitnya) adalah Rp. 3.000,- dengan minimal pembelian Rp. 100.000,-, maka kita bisa/boleh membeli 30 unit (Rp. 300.000,-) ataupun Rp. 125.000,- (41,6667 unit). Reksadana biasanya menghitung sampai dengan 4 angka dibelakang koma (ga tau lagi nanti kalau ada redenominasi ya 😀 ). NAB ini dihitung setiap akhir hari bursa secara otomatis oleh Manajer Investasi.

Nah, reksadana menganut aliran capital gain sebagai metode imbal hasilnya (walaupun ada beberapa reksadana yang memberikan semacam dividen). Baik itu reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, maupun reksadana saham. Jadi, keuntungan yang didapatkan oleh investor reksadana adalah selisih nilai jual dengan nilai beli unitnya.

Kita coba dengan contoh riil aja deh.
Pada tanggal 30 Desember 2009 jam 10.00 WIB, dari hasil memilih reksadana terbaik, saya beli reksadana BNP Paribas Pesona Syariah sejumlah Rp. 500.000,- dan mendapatkan 394,3715 unit (NAB nya Rp. 1.267,84 diluar fee beli, data harga reksadana BNP Paribas Pesona Syariah didapatkan dari sini).
Hampir 5 tahun kemudian, kemarin 18 Desember 2014 jam 12.30 WIB, saya redeem total (jual semua) reksadana BNP Paribas Pesona Syariah. Dari data di situs BNP Paribas ini, NAB nya adalah Rp. 2.538,77.
Berarti, sekitar 3 hari setelah eksekusi pencairan, dana yang akan masuk ke dalam rekening saya sebesar Rp. 2.538,77 x 394,3715 = Rp. 1.001.218,53. Di prosentasekan berarti sekitar 100,24%. Lumayan lah…

Baca juga :   Reksadana Semesta Dana Maxima (SEMAXIM:IJ)

Demikianlah penjelasan seadanya mengenai perhitungan keuntungan reksadana. Seperti biasa, ada disclaimernya 😀 .

DISCLAIMER : Penyebutan merk/nama produk bukan sebagai rekomendasi atau sinyal beli atau jual, melainkan hanya sebagai kepentingan informasi dan data saja. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Author: Febriadi

Male, over quarter century old...

19 thoughts on “Bagaimana menghitung keuntungan reksadana?”

  1. Assalamualaikum pak adi,saya mau tanya agak panjang nih,mohon dijawab yah.
    apa bedanya reksadana dengan unitlink pru**ntial,kebetulan saya baru saja menutup asuransi yang memiliki investasi juga disana.pertama saya buka asuransi investasi tsb,des 2006 dengan premi bulanan 400rb,dan pernah topup 10 juta di 2007.kmrn saya break di Rp.55.1 juta pada feb 2015,pertanyaan saya lbh menguntungkan mana unitlink itu dengan produk reksadana?klo asuransi itu ada biaya admin 30 persen tiap bulannya dr 400rb yg saya bayarkan,apakah RD ada admin fee setiap bulannya juga?terima kasih untuk pencerahannya.wass

    Wa’alaikumsalam mbak/bu Paramita.
    Menurut saya, ada salah kaprah sebetulnya mengenai unitlink.
    Kalau tujuannya untuk berinvestasi, maka lebih optimal reksadana, karena seluruh dana dikelola untuk mendapatkan gain/return.
    Kalau tujuannya proteksi/perlindungan keuangan, maka lebih optimal beli asuransi, karena nilai pertanggungan yang didapat akan maksimal.
    Kalau masuk unitlink, nilai investasi setengah hati, nilai pertanggungan juga setengah hati, akhirnya sama-sama ga maksimal keduanya… Jadi kalau menurut saya pribadi (maaf kalo ada yang tersinggung ya :D), unitlink itu produk untuk orang2 yang malas. Malas ngurusin reksadananya, malas ngurusin asuransinya, biarin orang aja yang setorin reksadana ma asuransinya, terima beres cukup bayar “fee” 😀
    Toh unitlink pun, sebetulnya menurut saya adalah asuransi+reksadana, karena kalau dilihat dari data yang diberikan mereka, mereka juga menyewa/bekerja sama dengan Asset Management sekelas Schroder atau lainnya untuk mengelola portofolio mereka.

    Kembali ke topic hehe… Kalau di reksadana, biaya yang menambah/mengurangi setoran/penarikan investasi secara umum hanya fee beli dan fee jual. Kalaupun ada fee management dan sebagainya, itu biasanya sudah masuk di prosentase return, alias return yang kita terima udah bersih. Apalagi kalau untuk reksadana pasar uang, biasanya malah gratis fee beli/jual, ya walaupun return nya juga ga seberapa sih 😀
    Kalau akun reksadana mbak/bu Paramita di bank, maka menurut saya ada fee admin, yaitu fee admin tabungan hehehe…
    Kalau akun reksadananya langsung ke MI seperti Trimegah/GMT/Manulife atau supermarket reksadana seperti ipotfund atau bareksa ga ada fee bulanan, yang ada fee beli atau fee beli.

    Demikian dari saya, mudah2an bisa memberikan pencerahan. Mohon maaf kalau ada kata/kalimat yang kurang berkenan.
    Terima kasih.

  2. Assalamu’alaikum Pak Adi. Sy ada pemula yg ingin mengetahui ttg reksadana. Trs terang sy buta sm skli mengenai ini. Sy sdh membaca bbrp artikel ttg reksadana, hasilnya lumayan sdh ada sdkt gambaran. Pertanyaan sy, dmn kita bs membeli reksadana tsb?. Apakah kami nantinya akan selalu di update oleh MI perihal hrga pasar setiap harinya? Mhn pencerahannya.trma ksh

    Wa’alaikumsalam bu/mbak Yuni, terima kasih telah berkunjung.
    Untuk dimana membelinya, kita bisa membelinya langsung menghubungi Manajer Investasi yang bersangkutan, beberapa Bank yang menjadi agen penjual (contoh: Bank Mandiri, Commonwealth Bank), ataupun melalui supermarket reksadana online seperti ipotfund, bareksa.

    Sedangkan untuk update dari MI hanyalah laporan yang datang setiap awal bulan ataupun setelah pembelian yang berisi jumlah unit kita dan harga/nilai terakhir per akhir bulan sebelumnya. Untuk update harga unit harian ibu/mbak Yuni bisa melihat di situs kontan.co.id, infovesta, bloomberg, ataupun di situs MI yang bersangkutan.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  3. Assalamu’alaikum Pak Adi. Saya mahasiswi tingkat akhir, kebetulan saya membuat skripsi yg berkaitan dengan reksa dana “pendapatan tetap”. Saya ingin bertanya, bagaimana cara perhitungan return reksa dana pendapatan tetap ini ? Karena ada seorang dosen saya yg menyarankan untuk melakukan perhitungan dengan didasari data obligasi, sedangkan yg saya lakukan saat ini hanya menghitung returnnya berdasarkan data NAB yang dikeluarkan oleh masing-masing MI dengan cara (NAB1 – NABo)/NABo. Mohon penjelasannya pak. Terimakasih.

    Wa’alaikumsalam mbak Putri, terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.

    Menurut saya, rumus yang anda gunakan adalah untuk menghitung prosentase return reksadana secara umum. Sedangkan yang dosen anda sarankan adalah cara untuk mencari NAV/NAB dari sebuah Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT).
    Karena anda adalah mahasiswi, untuk apa menghitung prosentase return reksadana? Bukankah lebih sesuai bagi anda dalam bidang keilmuan untuk mencari cara menghitung NAV/NAB dari sebuah Reksadana Pendapatan Tetap seperti apa yang dosen anda sarankan? Bukan hanya mencari berapa keuntungan yang didapatkan jika berinvestasi di reksadana, yang notabene mampu dilakukan oleh murid/anak SD.

    Justru dengan bidang keilmuan anda, anda harus bisa mengetahui bagaimana sebuah reksadana menghasilkan keuntungan, dan bagaimana mendapatkan angka keuntungan tersebut dengan menghitung Nilai Aktiva Bersihnya. Untuk menghitung NAB, otomatis anda akan membutuhkan nilai-nilai/harga underlying asset nya, seperti kas, obligasi, deposito dan mungkin saham (jika ada). Ini lebih cocok untuk tugas akhir anda karena meliputi pengetahuan-pengetahuan di bidang finansial yang mungkin anda pelajari di kesarjanaan anda.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  4. Selamat malam, Pak Adi. Terus terang ini saya tdk bs tdr nih karena keasyikan baca artikel RD Bapak.
    Yg mau saya tanyakan, RD kan ada jangka waktunya. Misal saya pilih yg 5 tahun dg setoran awal 500.000. Apakah selama 5 tahun itu saya hrs setor dana / autodebet tiap bln? Atau bs didiamkan saja seperti deposito?
    Mohon pencerahannya Pak,
    Terima kasih

    Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya mbak Rahma.

    Jangka waktu itu ditujukan untuk mempermudah perencanaan. Mau investasi berpuluh-puluh tahun tanpa rencana jangka waktu pun bisa/boleh.

    Misalkan mbak Rahma punya target 5 tahun lagi beli mobil cash, maka dicicil dari saat ini melalui investasi ke reksadana saham. Apakah didiamkan atau setor terus? itu bagaimana target kita. Kalau 500rb satu kali investasi dan dihitung cukup untuk mendapatkan mobil, ya cukup sekali invest.
    Tapi kalau harga mobilnya kurang, ya berarti setor terus tiap bulan/tahun.

    Kalau gitu, kenapa ga nabung aja? Ya bisa aja, tapi nominal yang harus ditabung akan lebih besar karena keuntungan dari tabungan amat sangat kecil.

    Hitungan sederhananya begini, misalkan 5 tahun lagi butuh 20jt. Dana awal cuma 500rb. Kalau hanya menabung biasa berarti tiap bulan harus memasukkan 330rb. Jika investasi reksadana saham, maka dana tiap bulan yang di investasikan hanya 220rb.

    Secara teknis, mau didiamkan ataupun terus setor, keduanya bisa, terserah bagaimana kita.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih

  5. salam pak adi 🙂 mau tanya di tarif biaya dan reksadana bank commonwealth dlm kolom penjualan ada kolom “jumlah saldo minimum setelah penjualan kembali” ada yg 1 jt, 1000 unit dan sebagainya..apakah itu berati kita tdk bs mengambil semua uang kita secara utuh, krn harus menyisakan 1000 unit itu ya ? trm ksh

    Salam pak/mas Prima, terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.

    Untuk jumlah saldo minimum itu sejauh sepengetahuan saya adalah kebijakan dari masing-masing MI. Jadi implementasinya berbeda tergantung MI, saya sendiri di commbank masih ada satu buah reksadana pasar uang yang menyisakan nol koma sekian unit padahal waktu itu ingin saya redeem semua.

    Dasar kebijakannya bisa pak/mas Prima lihat di prospektus. Kalaupun kurang dari 1000 unit itu, ada MI yang membiarkan, ada juga MI yang langsung menutup reksadana kita. Dasar kebijakan tersebut kalau menurut saya sebetulnya lebih ke efisiensi, agar MI tidak mengeluarkan banyak biaya hanya untuk mengurusi jumlah unit yang terlalu sedikit (mis. 100 atau 10 unit).

    Jika memang berniat untuk me-redeem semua reksadana kita, ya cukup tulis semua unitnya maka akan di kembalikan semua dana kita dan ada kalanya reksadana kita langsung dianggap ditutup oleh MI.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  6. assalamu’alaikum pak adi, saya ingin mempunyai target simpanan dalam 5 tahun kedepan sebesar Rp.500jt,yang ingin saya tanyakan adalah berapa investasi awal yang dibutuhkan dan berapa setiap bulan saya harus menyetor pada MI untuk berinevestasi reksadana?

    Wa’alaikumsalam wr wb, terima kasih atas kunjungan pak Abdi ke blog saya.
    Untuk menghitung berapa kebutuhan investasi, pak Abdi bisa mencari kalkulator investasi di mesin pencari/google.
    Untuk target 500jt 5 tahun lagi, investasi awal dapat disesuaikan dengan keinginan pak Abdi sendiri. Menggunakan kalkulator ini, saya asumsikan investasi awal 0 rupiah, maka investasi bulanan yang harus disediakan oleh pak Abdi sekitar 5,5jt rupiah. Silakan disesuaikan perhitungannya di situs kalkulator tersebut langsung.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  7. Assalamu’alaikum. mohon maaf perhitungan keuntungan di atas pakai reksa dana jenis apa.

    Wa’alaikumsalam,

    Perhitungan pada artikel di atas menggunakan contoh reksadana saham.
    Namun secara prinsip, merupakan model perhitungan yang sama dengan jenis reksadana lainnya.

    Terima kasih.

  8. Pak saya ada dana kurang lebih 300jt , sebelumnya saya trading di saham. dan syukur walau meski naik turun saya bisa minimal mendapat ke untung sebesar 4%-5% Sebulan nya. apakah jika di di RD saya masi mendapat keuntung perbulanya atau mungkin perharinya seperti saya trading di saham?karena saya liat di reksadana kita ga perlu susah2 untuk melihat pasar atau bagi orang yg tidak paham tentang fundamental atau teknikal . karena ada Manajer Investasi yang akan mengelola dana kita. kira2 berapa besar keuntungan yang di dapat di RD tiap bulanya? terimakasih 🙂

    Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya, pak/mas Raka.
    Wah, dengan konsistensi anda mendapatkan 4-5% per bulan di saham, sepertinya saya harus belajar trading ke anda nih hehehe…

    Jika anda sudah bisa mendapatkan return konsisten sebesar itu, kenapa harus mengambil reksadana? Bahkan tanpa anda trading pun, cukup dengan investasi long-term langsung ke saham anda bisa mendapatkan return/gain yang lebih tinggi dibandingkan ke reksadana. Investasi long-term pun tidak terlalu perlu melihat pasar loh Pak 🙂

    Reksadana diciptakan untuk masyarakat awam yang ingin berinvestasi ke pasar modal indonesia, namun memiliki keterbatasan DANA (sehingga dapat subscribe mulai dari 50-100rb), WAKTU (tidak perlu menunggu harga bid/offer, cukup beli dan dapat unitnya), dan ILMU (tidak perlu mempelajari fundamental ~509 perusahaan, analisis ekonomi makro-mikro indonesia dan analisis teknikal untuk membeli). Selain itu, fee di reksadana lebih tinggi dibandingkan fee di saham.

    Jika anda ingin mengetahui berapa return reksadana, anda bisa lihat di infovesta, bloomberg, atau Pusat Data Kontan.

    Anda juga bisa membaca ulasan dari salah satu penulis kolom di tabloid kontan disini.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  9. Assalamualaikum pak adi,mohon pencerahannya saya baru mau invest di RD,
    Untuk RD saham apa klo kita melakukan invest long term dengan cara auto invest pasti menguntungkan??

    Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya, pak/mas Rofik.

    Jika anda memilih reksadana yang benar (secara legalitas), yang dikeluarkan oleh MI yang bagus (terpercaya, legal dan memiliki track record baik) DAN berinvestasi untuk jangka panjang (5 tahun s/d tak terhingga) maka secara historis akan menguntungkan.

    Contoh dari hal ini bisa dilihat dari Reksadana Saham yang sudah berusia >= 10 tahun seperti Panin Dana Maksima, Schroder Dana Prestasi, Batavia Dana Saham, BNP Paribas Pesona, Trim Kapital dan lain-lainnya. Pada saat penjualan perdana, semua reksadana memiliki NAV sama sebesar Rp. 1.000,-. Dan sekarang ada yang sudah Rp. 9.000,- (9x lipat), Rp. 33.000,- (33x lipat), Rp. 51.000,- (51x lipat) sampai dengan Rp. 72.000,- (72x lipat).

    Juga dapat dibaca, uji statistik yang dilakukan pak Rudiyanto disini.

    Pertanyaannya sekarang, sabarkah anda? 🙂

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  10. Assalamualaikum pak Adi, sangat informatif sekali untuk saya yg sedang belajar untuk investasi ke reksadana.. saya sudah menjalankan step-by- step yg diajarkan bapak…dan saya tertarik dengan reksadana semesta dana saham…untuk RD tersebut gmn mnrt analisis pak Adi, mengingat RD masih baru dengan NAB yg masih terjangkau pula..makasih pencerahannya…

    Wa’alaikumsalam wr wb. pak Dion, terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.
    Untuk memilih reksadana, saya biasanya mencari reksadana yang sudah memiliki track record minimal 3 tahun ke belakang. Atau lebih baik 5 tahun. Kenapa? karena dalam kurun waktu 3-5 tahun tersebut biasanya sudah terlihat bagaimana historis return produk tersebut dalam menghadapi pasar ynag naik turun, apakah lebih parah saat pasar jatuh, atau malah lebih baik dan sebaliknya.

    Untuk NAB/NAV tidak ada bedanya anda membeli reksadana dengan harga 1000 ataupun 50000, yang perlu anda lihat hanyalah return nya. Harga rendah dengan harga tinggi di reksadana adalah salah kaprah, karena reksadana berbeda dengan saham.

    Anda membeli reksadana 100 unit 1000 per unit dengan anda beli 2 unit 50000 per unit jika kenaikannya sama-sama 5%, tetap saja anda untung 5000.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  11. Terima kasih artikelnya pak Adi.
    Bagaimana menghitung Return RD dengan cara setor DCA (Dollar Cost Averaging), bukankah nilai beli NAB akan berbeda setiap kali melakukan sistem DCA ini.
    contoh : Jika saya membeli Reksadana :
    1. Januari 2014 : Rp. 5.000.000 dengan NAB Rp. 2.000
    2. Juli 2014 : Rp. 3.000.000 dengan NAB Rp. 2.100
    3. Desember 2014 : Rp. 6.000.000 dengan NAB Rp. 2.050
    lalu misal saya ingin Redeem RD di Bulan Juli 2015 dengan NAB Rp. 2.700.

    Bagaimana cara menghitung Return nya pak Adi ?

    regards,

    Selamat datang pak Aswin di blog saya.

    Untuk DCA, sejauh pengetahuan saya, memang perhitungan returnnya juga tidak fix, melainkan rerata/rata-rata.
    1. 5.000.000/2.000 = 2500 unit
    2. 3.000.000/2.100 = 1.428,5714
    3. 6.000.000/2.050 = 2.926,8292

    Total unit yang dimiliki sebanyak 6.855,4006 unit. Dengan NAB 2700 maka dana anda sebesar Rp. 18.509.581 yang berarti sekitar 132%.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  12. assalamualaikum wr wb

    Pengetahuan bapak soal reksa dana dan cara bapak menjelaskan kepada orang awam sangat sangat mudah di pahami pak…
    salut…

    setelah saya membaca di salah satu media online, disitu memuat informasi soal hasil investasi reksadana, disebutkan NAB, keuntungan 30 hr, 1 thn dan riil 1 thn,
    yg ingin saya tanyakan maksud dr keuntungan 30 hr, 1thn dan riil 1 thn itu apa pak?

    terima kasih

    salam

    Wa’alaikumsalam wr wb.
    Terima kasih atas kunjungan kedua pak Haris di blog saya. 🙂

    Maksudnya keuntungan 30 hari adalah keuntungan reksadana, yaitu dari kenaikan NAB selama 30 hari ke belakang terhitung dari hari keluarnya informasi tersebut.
    Contoh, misalkan keuntungan 30 hari dari 3 Desember, berarti kenaikan NAB dari tanggal 2 November 2015 s/d 2 Desember 2015 (kalau tidak salah, sebab NAB reksadana baru keluar H+1).
    Untuk 1 tahun juga sama, kenaikan NAB dari 1 tahun ke belakang terhitung dari hari keluarnya informasi. Sedangkan untuk 1 tahun riil ini saya tidak mengerti maksudnya, mungkin pak Haris bisa berikan url/medianya.

    Yang umum ditampilkan biasanya 1 bulan, 1 tahun, YTD (Year to Date – Tahun s/d hari ini, misal 2015 YTD berarti dari 1 januari s/d saat ini 3 desember), 3 tahun dan 5 tahun.

    Demikian dari saya, mohon maaf bila ada yang kurang karena keterbatasan pengetahuan saya.
    Terima kasih.

  13. assalamualaikum wr wb

    sebelumnya terima kasih atas jawaban dr pertanyaan saya pak

    menanggapi permintaa bapak, berikut link yg saya baca
    http://m.tempo.co/read/news/2015/11/22/212721277/hasil-investasi-reksa-dana-saham

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

    Setelah saya baca, saya sendiri agak bingung memaknai 1 tahun riil, sebab setelah saya hitung menggunakan data bloomberg, saya tidak tau dimana posisi NAB saat investasi sehingga dikatakan riil.
    Sebagai pembanding, mungkin bisa dilihat dari https://www.indopremier.com/ipotfund/listreksadana.php , https://www.infovesta.com atau bisa juga dari koran/tabloid/berita khusus ekonomi. Atau mungkin juga bisa dikonfirmasika/ditanyakan ke tempo, bagaimana metode perhitungan mereka sampai mengatakan/menuliskan hasil riil.

    Demikian dari saya, mohon maaf atas keterbatasan pengetahuan saya.
    Terima kasih.

  14. dari banyak artikel mengenai reksadana yang saya baca di internet, sepertinya hanya artikel ini yang benar-benar menjelaskan secara sederhana tapi lugas tentang profit dari suatu reksadana, terima kasih Pak.

  15. Siang pak,maaf sy mau tanya ni,kemarin tgl 9 nov 2016,sy membuka reksa dana pasar uang di pt.mandiri manajemen investasi,dengan setoran 100rb,jangka waktu 12bln,berapa keuntungan yg sya dapat nanti di akhir tahun, NAV 1,260.9700 tgl 17 nov,dan sy sampan hari ini sy blom mendapatkan bukti kepemilikan ato confirmation notice,sy cuma dikasih pormulir pembelian serta lembaran unit trust subcription form.menejer sy bilang confirmation notice akan diberikan dlm wktu 1bln,sedangkan di prospektus dikatakan 14 hari bank kustodian sudah akan mengeluarkannya,apa ini benar ato salah pak?

  16. Selamat pagi.. saya sudah 4 bulan mencoba untuk menyisihkan penghasilan untuk berinvestasi di reksadana, dalam laporan harian portofolio ada disebutkan AVG NAV dan Last NAV, sedikit pemahaman saya, AVG NAV adlh rata-rata NAV sedangkan Last NAV adalah NAV terakhir, pertanyaan saya, nilai dari AVG NAV apakah muncul hanya dari apabila kita melakukan Top Up? karena klo diperhatikan sepertinya Nilai AVG NAV tidak ikut mengalami perubahan seprti halnya dengan Last NAV, terima kasih

  17. Mau Investasi Reksadana….bisa Hubungi saya 082183959607(WA)
    Kebetulan Saya sendiri Sudah 2 tahun ikut investasi Reksadana melalui Program 3i-network dari PT AJ.CAR member Of Salim Group..
    Hebatnya investasi disini..Selain kita bisa Ikut beli reksadana kita Juga Bisa Jalankan Peluang usahanya…maU Info lebih lanjut klik link berikut ini..www.3i-networks.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *