Mengenal Investasi Reksadana Syariah

Banyak yang menganggap investasi di pasar modal itu haram, judi, dan berbagai stigma negatif lainnya. Apakah itu investasi sukuk, investasi saham, maupun investasi reksadana. Yang belum banyak diketahui oleh masyarakat, bahwa investasi saham maupun investasi reksadana pun halal, asal sesuai dengan syariah. Oleh karenanya, ada produk investasi reksadana syariah.
Apa dan bagaimana reksadana syariah itu? Apakah investasi reksadana itu halal atau haram? Apakah dengan label reksadana syariah kemudian investasi reksadana menjadi halal? Mari kita coba mengenal investasi reksadana syariah melalui artikel ini.

Pada dasarnya, investasi reksadana syariah secara umum sama dengan reksadana biasa, berdasarkan OJKPedia, yaitu : “wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dan masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portfolio efek.” Intinya, kurang lebih berinvestasi secara kolektif untuk membeli aset tertentu.

Namun ada beberapa aturan khusus terkait syariat islam, dalam operasional reksadana syariah, yang menjadikannya berbeda dengan reksadana pada umumnya. Pembuat dasar aturan reksadana syariah atau hal-hal yang berkaitan dengan pasar modal syariah adalah Dewan Syariah Nasional dari MUI. Dari dasar-dasar aturan atau fatwa inilah, OJK menggodok aturan-aturan terkait reksadana syariah ataupun semua terkait keuangan atau pasar modal syariah.

Setelah regulasi berjalan pun, akan ada Dewan Pengawas Syariah yang berada di masing-masing lembaga keuangan yang akan mengawasi operasionalnya apakah sesuai dengan aturan syariah atau tidak. Sejauh ini bisa disimpulkan, bahwa ke-halal-an nya bukan hanya sekedar aturan tertulis, namun juga diawasi dengan ketat untuk menjamin ketenangan kita sebagai investor.

Dasar aturan reksadana yang halal secara syariah yaitu dari Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 mengenai Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Dalam fatwa ini pun tertulis, bahwa reksadana merupakan salah satu bentuk mu’amalah (aktivitas ekonomi) masa kini.

Baca juga :   IHSG Rebound...

DSN MUI sendiri pun melalui fatwa ini juga memberikan definisi reksadana syariah, yang isinya sebagai berikut :

Reksa Dana Syari'ah adalah Reksa Dana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip Syari'ah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (sahib al-mal/ Rabb al Mal) dengan Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal, maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna investasi.
Berikut 5 pembeda Investasi Reksadana Syariah (dicomot dari Fatwa DSN MUI No. 20/DSN-MUI/IV/2001) :
  • Investasi hanya dapat dilakukan pada instrumen keuangan yang sesuai dengan Syari’ah Islam.
  • Investasi hanya dapat dilakukan pada efek-efek yang diterbitkan oleh pihak (Emiten) yang jenis kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan Syari’ah Islam.
  • Pemilihan dan pelaksanaan transaksi investasi harus dilaksanakan menurut prinsip kehati-hatian (prudential management/ihtiyath), serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang di dalamnya mengandung unsur gharar (ketidak-pastian).
  • Hasil investasi yang dibagikan harus bersih dari unsur non-halal, sehingga Manajer Investasi harus melakukan pemisahan bagian pendapatan yang mengandung unsur non-halal dari pendapatan yang diyakini halal (tafriq al-halal min al-haram).
  • Hasil investasi yang harus dipisahkan yang berasal dari non halal akan digunakan untuk kemaslahatan umat yang penggunaannya akan ditentukan kemudian oleh Dewan Syari’ah Nasional serta dilaporkan secara transparan. (Biasa disebut cleansing)

Nah, dari poin di atas, kita coba liat detil setiap Pasal (tetap dari fatwa yang sama) :

Investasi hanya dapat dilakukan pada instrumen keuangan yang sesuai dengan Syari’ah Islam.

Penjelasan Pasal 7 ayat 1 ini ada pada ayat berikutnya, yaitu :

  • Instrumen saham yang sudah melalui penawaran umum dan pembagian dividen didasarkan pada tingkat laba usaha;
  • Penempatan dalam deposito pada Bank Umum Syariah;
  • Surat hutang jangka panjang yang sesuai dengan prinsip Syari’ah; (ini umumnya sukuk)
Baca juga :   Mengenal Investasi Reksadana
Investasi hanya dapat dilakukan pada efek-efek yang diterbitkan oleh pihak (Emiten) yang jenis kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan Syari’ah Islam.

Pasal ini menyoroti instrumen saham. Kegiatan usaha apa saja yang dimaksud bertentangan dengan syariah, ada pada Pasal 8 Ayat 2, yaitu :

  • Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang;
  • Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;
  • Usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan makanan dan minuman yang haram;
  • Usaha yang memproduksi, mendistribusi, dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
    Dari sini sudah terlihat, pabrik rokok, bank, bir tidak akan masuk daftar perusahaan yang sahamnya akan dibeli oleh Manajer Investasi.
Pemilihan dan pelaksanaan transaksi investasi harus dilaksanakan menurut prinsip kehati-hatian (prudential management/ihtiyath), serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang di dalamnya mengandung unsur gharar (ketidak-pastian).

Ini adalah bunyi Pasal 9 ayat 1, dimana pada ayat 2, dijelaskan yang dimaksudkan tindakan tersebut adalah :

  • Najsy, yaitu melakukan penawaran palsu;
  • Bai al-Ma’dum yaitu melakukan penjualan atas barang yang belum dimiliki (dalam bursa saham biasa disebut short selling);
  • Insider trading yaitu menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang;
  • Melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) hutangnya lebih dominan dari modalnya.
Hasil investasi yang dibagikan harus bersih dari unsur non-halal, sehingga Manajer Investasi harus melakukan pemisahan bagian pendapatan yang mengandung unsur non-halal dari pendapatan yang diyakini halal (tafriq al-halal min al-haram).

Dengan adanya aturan ini, kita sebagai investor akan lebih tenang, karena imbal hasil yang kita terima sudah jelas merupakan harta yang halal.

Baca juga :   Cara Investasi Reksadana Untuk Pemula

Dari penjelasan-penjelasan diatas, menurut saya sudah cukup jelas bagaimana hukumnya reksadana syariah menurut para ulama-ulama di indonesia. Atas dasar fatwa yang diberikan oleh para ulama, bagi saya, investasi reksadana syariah itu sesuai dengan syariah dan imbal hasil yang didapatkan juga halal. Apalagi, ada beberapa reksadana yang menyisihkan imbal hasilnya untuk membantu memberangkatkan haji dan juga membantu dhuafa/fakir miskin.

Jikalaupun kita masih kurang yakin dengan sebuah produk reksadana syariah, kita bisa baca prospektusnya, lihat siapa saja dewan pengawas syariahnya. Atau kita bisa ambil laporannya untuk melihat kemana saja dana kita di investasikan oleh manajer investasi.

Demikian penjelasan mengenai investasi reksadana syariah dari saya berdasarkan fatwa dari Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia. Semoga menjadi informasi yang bermanfaat.

Author: Febriadi

Male, over quarter century old...

4 thoughts on “Mengenal Investasi Reksadana Syariah”

  1. Sory masih awam banget nh.. Kl mau tanya2 langsung seputar reksadana syariah kemana ya? terus kl mau ngambil yg syariah recomend kemana? Terimakasih sebelumnya.

    Silakan bertanya disini, yang saya bisa, akan saya usahakan jawab sebisanya. Namun jika kurang, bisa ke forum reksadana di kaskus ataupun di forum-forum lainnya.
    Kalau untuk rekomendasi, saya tidak memberikan rekomendasi, namun akan lebih baik jika sesuai dengan profil resiko sang investor.

    Demikian dari saya, semoga berkenan.
    Terima kasih.

  2. baru tahu ternyata ada juga jenis investasi reksadana syariah, bermanfaat banget infomasi ini artikelnya juga menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *